Sabtu, 15 Oktober 2011

Naskah Drama "Bawang Putih & Bawang Merah"

Contoh naskah drama cerita "Bawang Putih & Bawang Merah"
(Versi tanpa Pangeran)

Kisah ini berawal dari desa kecil yang indah. Tapi keindahan dan keasrian desa yang terletak di tepi hutan ini, tidak bisa menutupi kesedihan gadis kecil dan malang. Dia sangat sedih karena keadaan ibunya yang sedang sakit parah.
***
Kini kita beralih ke sebuah rumah yang bersebelahan dengan rumah Bawang Putih.
Ibu Bawang Merah : Dasar anak tidak tahu diuntung!
Bawang Merah : Hah... ngomel terus! Kepalaku jadi pusing. Aku mau pergi saja!
Ibu Bawang Merah : Hey... mau kemana kamu? Dasar anak bandel! Ayo kembali masuk! Jangan membuat ibu semakin marah ya...!
Bawang Merah : Chuuiihh....! (Meludah)
Ibu Bawang Merah : Apa? Dasar anak durhaka! Jangan mencoba menghindar dari ibu ya...! Lihat itu, Bawang Putih!
Bawang Merah : Huh.. Bawang putih! (Dengan nada menyindir). Bu, bagaimana rencana kita untuk merebut harta Bawang Putih?
Ibu Bawang Merah : Untuk rencana, itu gampang. Kita tunggu saja situasinya.
***
Bawang Putih semakin sedih dengan keadaan ibunya kini. Dan dia juga harus menjaga ibunya seorang diri.
Bawang Putih : Ibu.....!
Ibu Bawang Putih : Anakku...! Kamu tidak perlu bersedih melihat keadaan ibu. Ibu bangga mempunyai anak sepertimu. Ibu mempunya sesuatu yang bagus untukmu. Coba kau ambil! Mungkin sangat berguna untukmu.
Bawang Putih : Baik bu! (Mengeluarkan kotak dari tumpukan baju). Ini bu...!
Ibu Bawang Putih : Buka dan pakailah!
Bawang putih : Wow... indah sekali bu! Indahnya... Bagus! Terimakasih bu!
Ibu Bawang Putih : Ibu senang melihat kamu gembira memilikinya. Jaga dan rawatlah cincin itu baik-baik!
Bawang Putih : Iya Bu...!
Demikianlah cinta kasih ibu dan anak tersebut semakin besar dan tidak terpisahkan. Hari berganti dan Bawang Putih kembali bersiap-siap mengerjakan pekerjaannya sehari-hari.
***
Bawang Merah : Lihat Bu...! Dia sudah berangkat.
Ibu Bawang Merah : Ini saat yang tepat untuk melaksanakan rencana kita. Semoga tidak ada halangan, mulus seperti yang kita harapkan dan semuanya akan menjadi milik kita. Hahahaha.....!
Bawang Putih tidak menyadari niat jahat tetangganya itu. Pikirannya sudah mulai sedikit tenang. Kesediahannya seharusnya mulai berkurang, karena keadaannya ibunya yang berangsur membaik. Tapi kini dia merasa tidak tega meninggalkan ibunya sendiri di rumah. Setelah memberi makan ikan mas kesayangannya, Bawang Putih bergegas pulang.
Bawang Putih : Sebaiknya aku segera pulang. Ada perasaan tidak enak di dalam diriku. Aku tidak tega meninggalkan ibu di rumah seorang diri.
***
Saat Bawang Putih berjalan pulang....
Ikan mas : Tolong...! Tolong....! Tolong aku...! Tolong...!
Bawang Putih : Sepertinya ada yang meminta tolong? Dimana dia?
Ikan mas : Aku disini!
Bawang Putih : Ikan mas? Tunggu sebentar! (berusaha melepas kail di mulut ikan mas).
Ikan mas : Aww...aw...!
Bawang Putih : Tahan!
Ikan mas : Huh... lega rasanya! Kalau saja mulutku tadi tidak ditolong pasti sudah hancur!
Bawang Putih : Hah....! Kamu bisa bicara? Aku jadi lupa, aku harus segera pulang. Kasihan ibu di rumah.
***
Di rumah Bawang Putih.....
Bawang Merah : Masih belum diminum juga? Kapan bisa sembuh kalau tidak diminum jamunya?
Ibu Bawang Putih : Terimakasih Bawang Merah. Tadi pagi saya sudah minum jamu dan Bawang Putih sendiri yang membuatnya.
Bawang Merah : Huhh... tapi mana buktinya? Sampai sekarang masih belum sembuh.
Ibu Bawang Merah : Bawang merah...! Coba lihat ke arah jendela!
Bawang Merah : Rupanya dia sudah pulang! Aku tidak punya banyak waktu lagi. Sekarang minum obat ini wanita tua! Hahaha..... Benar-benar jamu yang manjur.
Ibu Bawang Merah : Ayo cepat kita keluar!
Bawang Merah : Sebentar ma...! Kita rapikan dulu tempat tidurnya. Sekarang sudah beres!
Ibu Bawang Merah : Ayo kita pergi! Sebentar lagi akan ada pertunjukan istimewa!
Saat Bawang Putih masuk ke dalam kamar ibunya.....
Bawang Putih : Ma.... Mama? Mama apa yang terjadi mom? Mama... mama bangun! Bangun mom...! (dengan menangis)
Ibu Bawang Merah : Jangan terlalu bersedih! Kamu tidak sendirian! Aku tidak keberatan untuk menemanimu! Aku juga menyayangimu. Aku akan membuatmu lebih bahagia dari pada sekarang. Sudahlah anak manis, mari kita lupakan hal yang telah lalu, kita akan menyusun hari-hari penuh kegembiraan.
Bawang Putih : Ibu...!
Ibu Bawang Merah : Tidak baik berlarut-larut dalam kesedihan.
Bawang Merah : Benar! Kalau kamu tidak keberatan, aku bersedia menemanimu, sebagai sahabat yang baik aku akan berusaha membuat hari-hari ceria kembali. Sudahlah sebagaimanapun juga dia adalah orang tua yang sangat kamu sayangi. Bawang Putih... percayalah! Kami akan selalu menjagamu!
Ibu Bawang Merah : Ibu bersyukur atas kerukunan kalian berdua. Sekarang kita urusi ibumu yang malang ini.
***
Ibu Bawang Merah : Bawang Putih...! Aku ikut merasakan kepedihan hatimu. Ibu adalah segala-galanya bagi kita.
Bawang Merah : Benar, Bawang Putih! Kita tidak mau kamu hidup kesepian. Maksudku... bagaimana kalau kamu hidup bersama kami?
Bawang Putih : Terimakasih...!
Ibu Bawang Merah : Baiklah anak-anak sandiwara telah selesai. Dan kamu Bawang Merah, saatnya untuk memperlakukan Bawang Putih lebih manis lagi!
Bawang Merah : Baiklah Bawang Putih! Permainan akan segera dimulai...! (Bawang Merah mendorong Bawang Putih hingga terjatuh.)
Bawang Putih : Ahh.....!
Bawang Merah : Hahaha...! Ini baru permulaan. Selanjutnya akan ada kejutan-kejutan yang menarik untukmu. Sekarang bangun! (Bawang Merah mendorong hingga Bawang Putih terjatuh kembali.)
Bawang Putih : Ahh....! (Kesakitan.)
Bawang Merah : Hey...! Ayo bangun! Jangan berlagak sayang-sayangan di sini. Cucian sedang menumpuk di belakang. Dan cepat lakukan tugasmu pembantu cengeng!
Ibu Bawang Merah : Dan ingat! Kamu akan mendapat perlakukan lebih buruk lagi, jika kamu berani melaporkan hal ini pada orang lain.
***
Di danau.....
Bawang Putih : Aku merasa lelah sekali. Cucian kali ini banyak sekali. Terutama cucian bawang putih dan ibunya.
Ikan mas : Sungguh malang nasibmu putri! Senang sekali dapat bertemu denganmu lagi. Semoga kau tak menolak kalau aku akan membantu meringankan bebanmu.
Bawang Putih : Aku selalu terkejut pada keajaiban dan keanehan pada dirimu. Baiklah ikan baik, kali ini lakukanlah apa yang akan kau mau.
Ikan mas : Sekarang tolong cucianmu masukkan ke dalam air! Aku akan menghilangkan semua noda yang ada di cucianmu. Dengan sekali mantra, Bimsalabim ka’arba-arba!!!
Bawang Putih : Wahh....! Terimakasih ikan mas! Cucianku sekarang langsung bersih! Baiklah ikan mas, aku ingin pulang. Sebelum Bawang Merah dan Ibunya marah.
***
Sesampainya di rumah........
Bawang Merah : Hey....!Benda apa yang ada di jarimu itu? Wow.. cincin emas! Berani sekali kau menyembunyikannya dariku. (Bawang Merah merampas cincin dari jari Bawang Putih).
Bawang Putih : Tolong jangan rampas cincin itu dariku. Itu warisan terakhir ibuku!
Bawang Merah : Aku tidak perduli. Selama kamu hidup dengan kami, kamu harus mengikuti semua perintahku dan ibuku.
Keesokan paginya, di tepi danau.....
Ikan mas : Mengapa engkau terlihat sangat sedih?
Bawang Putih : Aku telah kehilangan satu-satunya warisan ibuku. Dan itu dirampas oleh Bawang Merah.
Ikan mas : Keterlaluan sekali dia! Kalau begitu suruh saja mereka datang ke sini. Akan ku balas perlakuan buruknya terhadapmu putri. Hiiaattt!!! Jurus Bangau!
Bawang Merah : (Sambil memegang ikan mas). Sungguh kali ini aku bisa melihat ikan yang dapat bicara.
Bawang Putih : Tidak! Kembalikan dia ke temapatnya! Jangan biarkan dia tersiksa begitu.
Bawang Merah : Owh...! Nampaknya kau ingin berlagak seperti penyayang binatang? Tapi bukankah dia ingin memberikan pelajaran kepadaku?
Bawang Putih : Aku mohon! Lepaskan, dia bisa mati!
Bawang Merah : Ikan ini akan aku bunuh jika kau berani melawanku! Bawang Putih, dia akan aku rawat baik-baik. Dan tunggu saja kabar dariku!
***
Keesokan harinya......
Bawang Merah : Tidak baik hari yang cerah seperti ini dibuat selalu murung. Rupanya kau butuh kawan lamamu. (Bawang Merah melempar bangkai ikan mas di depan Bawang Putih).
Bawang Putih : Ikan mas??? Dasar, sama sekali tidak ada rasa peri kemanusiaan!
Bawang Putih mengubur bangkai ikan mas di halaman depan rumahnya. Tak lama, tumbuh tanaman emas tepat di atas tempat penguburan ikan mas.
Ibu Bawang Merah : Bawang Putih...! Bawakan kami 2 cangkir teh hangat.
Bawang Merah : Dan jangan terlalu lama!
Bawang Putih membuat 2 cankir teh hangat, tapi kemarin malam Bawang Putih bermimpi untuk memasukkan daun tanaman emas ke dalam makanan atau minuman Bawang Merah dan Ibunya. Dia pun memasukkan daun tanaman emas kedalam cangkir teh keduanya.
Bawang Putih : Ini pesananmu!
Ibu Bawang Merah : Lama sekali kamu! (Ada keajaiban setelah Bawang merah dan ibunya meminum teh tersebut. Mereka berubah menjadi baik kepada Bawang Putih).
Bawang Merah : Aku tidak menyangka, kau pandai sekali membuat teh. Rasanya nikmat sekali.
Ibu Bawang Merah : Iya! Ibu setuju!
Bawang Merah : Aku bangga punya adik sepertimu!
Sejak saat itulah, Bawang merah dan Ibunya berubah sangat baik terhadap Bawang Putih. Dan sampai saat ini mereka hidup bahagia untuk selamanya.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar